Sudah hampir 5x Viona mondar-mandir didalam kamar sambil sesekali melirik hp, ‘Ga da sms’, piker Vio kesal. Gadis ini merasa gelisah, dan melemparkan hp-nya ke atas kasur saking kesalnya.
“Loe kemana sich Vinct? Ga tau apa gue panik kayak gini?” umpatnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara dering hp yang membuatnya melihat layar hp yang tertera nama ‘Beibh’, lalu segera menghempaskan diri di atas kasur dan membaca pesan yang berisi kalau kekasihnya baru saja pulang dari tempat kerja sambilannya. Setelah membalas pesan itu, akhirnya ia tertidur dengan hp dalam genggamannya karena malam telah larut.******
Pagi-pagi sekali Viona sudah berada di sekolah, namun di dalam kelas ia hanya melamun saja. Tak lama kemudian, sahabatnya, Lily, menghampirinya.
“Woey!? Pagi-pagi udah nglamun sendirian? Ntar kalo kesambet gimana?” canda Lily sambil terkekeh, sementara yang disapa tidak merespon sama sekali.
“Da pa sich? Kok muka loe pucet,loe sakit?” kata Lily bingung
“Enggak, gue ga papa. Cuma kurang tidur aja semalem?” jawab Viona lemas, seraya menggelosorkan diri di atas meja.
‘Pasti gara-gara si Vincent lagi nich?’ piker Lily iba sambil mengelus kepala sahabatnya yang terkulai lesu. Tak lama kemudian, bel tanda masuk pun berbunyi, semua siswa masuk ke kelas dan mulai mengikuti pelajaran. Akan tetapi Viona tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran dengan baik.
*****
Saat pulang sekolah, Lily bersikeras untuk mengantar Viona pulang bersama dengan mobilnya, karena cemas dengan keadaan sahabatnya yang benar-benar tidak niat hidupitu, walaupun sudah ditolak dengan halus tadinya. Ditengah jalan, tiba-tiba Viona memegangi dadanya sambil terengah-engah., Lily yang berada di sebelahnya terkejut dan menjadi panik.
“Vi, loe kenapa? Vi, Vi?” Lily bingung, “Mang, agak cepet dikit donk?” katanya panik pada Mang Ujang.
“I.. Iya, non?” sahut Mang Ujang ikutan panik.
“Sa.. Sakit Lil.. Hah.. Hah..” Viona mengerang kesakitan.
“Iya, Vi, bentar lagi nyampe kok? Sabar ya?” kata Lily mencoba menenangkan
Ketika sampai di depan rumah, Mang Ujang langsung membopong Viona, sementara Lily mengetuk dan membukakan pintu-yang tidak dikunci-dan langsung menyuruh Mang Ujang menidurkan Viona di sofa panjang. Karina, mama Viona, yang terkejut saat mendengar pintu dibuka dan suara rebut-ribut, langsung berlari menuju ruang tamu. Ia semakin kaget saat melihat anaknya meringkuk di atas sofa.
“Mang Parmin, tolong ambilin tabung oksigen? Cepet!?” teriak Karina, “Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi Lily?” tanya Karina
“Saya.. Saya ga tau Tante?” jawab Lily gelagapan, “Dari tadi pagi Viona kelihatan lemes, trus waktu di jalan pulang tadi, tau-tau dia begini.” lanjutnya.
“Ma, sakiiitt..” rintih Viona
“Iya, sayang.. bentar dulu ya?” kata Karin menenangkan, “Mang, Bi??” panggilnya
“Loe tenang dulu ya, Vi??” kata Lily
“Iya, nyah?” sahut mereka bersamaan
Mang Parmin datang membawa tabung oksigen dan diikuti oleh Bi Ijahyang membawa plastik penuh obat. Setelah minum obat, Viona mulai tenang dan tak lama kemudian ia tertidur. Selang beberapa menit, Lily dan Mang Ujang pun berpamitan.
*****
Malam harinya, Viona terbangun dan bingung waktu sadar ia sudah ada di dalam kamar. Tak lama kemudian, terdengar suara dering hp diatas meja kecil di sebelah ranjangnya. Viona mencoba untuk meraih hp tersebut disaat Alka, kakaknya, masuk kedalam kamarnya.
“Dhek? Adhek ngapain?” tanya Alka
“Kak, ambilin hp?” pinta Viona
“Loe masih berhubungan sama dia?” tanya Alka setelah membaca nama yang ada di layar hp.
“Kak, siniin hp-nya?” kata Viona
“Dhek, dia tuh udah nyakitin kamu? Sampe 2x malah, kamu.. kenapa kamu masih contact-contact an sama dia?” kata Alka dengan suara lirih.
“Siniin hp-nya, kak Alka?” rengek Viona sambil mencoba untuk menrebutnya dari Alka
“Enggak, kamu harus jelasin ini sama kakak?” sergah Alka
Bukanya menjawab, Viona justru terisak. Alka duduk di tepi kasur dan menggenggam tangan adiknya. “Dhek, bilang sama kakak, ada apa sebenernya? Please, dhek??” katanya lembut“Vio masih sayang dia, kak? Vio masih sayang Vincent… Vio sayang dia?” jawab Vio di sela-sela tangisnya. Sementara Alka hanya terdiam mendengar hal itu, seraya memeluk adiknya. “Vio masih sayang dia, kak…” kata Viona lirih


0 komentar:
Posting Komentar