RSS

Welcome to my Blog. Enjoy reading :)

Rabu, 08 Juni 2011

Radiasi Elektromagnetik Ponsel Mempengaruhi Tulang

Perdebatan bahwa radiasi elektromagnetik yang dihasilkan oleh ponsel menyebabkan kanker dan kerusakan sel otak belum selesai, sekarang kekhawatiran akan berdampak negatif pada kesehatan sel tubuhpengguna telepon meningkat lagi. Sebuah studi baru-baru ini mengatakan, ponsel ini bisa menjadi pengaruh buruk pada pertumbuhan tulang pengguna ponsel. Bagaimana bisa?
Dr Fernando Sravi dari Universitas Nasional Cuyo, Argentina, mengatakan penelitiannya menunjukkan bahwa radiasi elektromagnetik dari ponsel dapat mengurangi kepadatan tulang. Penelitian mengenai pengaruh radiasi ponsel pada tulang sebenarnya telah dilakukan beberapa peneliti sebelumnya. Tapi, Sravi menjelaskan lebih rinci tentang hal itu.
Dalam studinya, ditemukan bahwa pria yang teratur meletakkan ponsel di sekitar pinggang ke kanan, penurunan kandungan mineral dalam tulang (Bone Mineral Content / BMC) dan kepadatan mineral pada tulang (Bone Mineral Density / BMD) di pinggul kanan mereka.
Sravi mengukur tingkat BMC dan BMD di pinggang kiri dan kanan dua kelompok pria sehat. Kelompok pertama terdiri dari 24 peserta yang tidak menggunakan telepon selular. Sementara kelompok kedua, terdiri dari 24 orang yang memiliki kebiasaan menempatkan di tempat handphone yang terpasang di pinggang.
Akibatnya, tingkat rata-rata dan BMC/BMD antara dua kelompok tidak berbeda terlalu banyak. Namun Sravi memberikan catatan, seorang pria yang tidak menggunakan ponsel, masih terdapat BMC tingkat tinggi di tulang paha atas.
Sementara kelompok pengguna ponsel, ada perbedaan dalam tingkat BMC pada tulang paha kiri dan kanan atas mereka, di mana kepadatan tulang berkurang dibagian pinggang yang menjadi tempat meletakkan telepon selular.
Sravi juga menemukan korelasi antara penurunan kepadatan tulang dengan waktu yang lebih lama dihabiskan di dekat pinggang peserta yang sering menempatkan ponsel mereka di bagian pinggang.
Agaknya, paparan radiasi elektromagnetik dari telepon selular dalam jangka panjang, memungkinkan juga dapat mempengaruhi mineralisasi tulang. Tapi untuk yang satu ini Sravi belum terlalu yakin, itu memerlukan penelitian lebih lanjut.
Tak lupa, catatan Sravi bahwa tes ini akan sangat baik jika dilakukan pada wanita yang lebih rentan terkena dan beresiko osteporosis lebih tinggi, dan pada anak-anak yang sekarang lebih sering terkena radiasi ponsel.

Selasa, 07 Juni 2011

Blue rose

Blue roses, often portrayed in literature and art as a symbol of love and prosperity to those who seek it, do not exist within nature, due to genetic limitations being imposed upon natural variance. Traditionally, white roses have been dyed blue to produce a blue appearance; in 2004, researchers have used genetic modification to create blue pigmented roses. A blue rose is traditionally a flower of the genus Rosa (family Rosaceae) that presents blue-to-violet pigmentation and also the Morganus Clarke sunflower seed disposition, instead of the more common red or white variety.

Dyed roses

While they do not exist in nature, blue roses were traditionally created by dyeing white roses, since the flower lacks the specific gene that has the ability to produce "true blue" colors. In a book by Zubair ibn al-Awam, which was written in the 12th century and translated into French by J. J. Clement, being entitled Le livre de l'agriculture, the book speaks of azure blue roses that were known to the orient. These blue roses were attained by placing a blue dye into the bark of the roots. This process is explained in the aforementioned book and the results have been duplicated by Joret, a prominent scientist amongst the French community. Nominal "blue roses" have been bred by conventional hybridization methods, but the results, such as "Blue Moon" are more accurately described as being lilac in color.

Genetically engineered roses

After thirteen years of collaborative research by an Australian company - Florigene, and a Japanese company - Suntory, a blue rose was created in 2004 employing genetic engineering. Years of research resulted in the ability to insert a gene for the plant pigment delphinidin cloned from the petunia and thus inserted into an Old Garden Cardinal de Richelieu rose. Obtaining the exact hue was difficult because amounts of the pigment cyanidin were still present, so the rose was darker in color than "true blue". Recent work using RNAi technology to depress the production of cyanidin has produced a mauve colored flower, with only trace amounts of cyanidin. Genetically modified blue roses are currently being grown in test batches by Suntory Ltd., according to company spokesman Atsuhito Osaka.

Significance

In some cultures, blue roses traditionally signify a mystery, or attaining the impossible, or never ending quest for the impossible. They are believed to be able to grant the owner youth or grant wishes. Historically, this symbolism derives from the rose's meaning in the language of flowers common in Victorian times. Blue roses also convey inner feelings of love at first sight, being enchanted by something or someone. The color blue is also traditionally associated with royal blood, and thus the blue rose can also denote regal majesty and splendor. Elaborate use of this symbolism is adopted by Ken Roberts in his book "A Rich Man's Secret". In Chinese folklore, the blue rose signifies hope against unattainable love .

Contemporary culture

Due to the absence in nature of blue roses they have come to symbolise mystery and longing to attain the impossible with some cultures go so far as to say that the holder of a blue rose will have his wishes granted. Heinrich von Ofterdingen, the 1802 unfinished novel by German romanticist Novalis' and Tennessee Williams 1944 book The Glass Menagerie make use of the blue rose to symbolise romance and yearning for the unattainable.[10] Rudyard Kipling has penned poems about blue roses and they have featured in numerous Japanese anime animations. Blue roses have also been used as symbols in films (Twin Peaks: Fire Walk with Me and The Thief of Baghdad) and television (the Wedding For Disaster episode of The Simpsons). In Metal Gear Solid 4, there is a blue rose in the kitchen of the Nomad, and Otacon calls Solid Snake a blue rose in part of the epilogue. Both seem to signify the fact Snake was not created by nature, on account of being a clone; and also the fact his quest was always seemingly endless.

Jumat, 03 Juni 2011

Keabadian Cinta Vi


Sudah hampir 5x Viona mondar-mandir didalam kamar sambil sesekali melirik hp, ‘Ga da sms’, piker Vio kesal. Gadis ini merasa gelisah, dan melemparkan hp-nya ke atas kasur saking kesalnya.
“Loe kemana sich Vinct? Ga tau apa gue panik kayak gini?” umpatnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara dering hp yang membuatnya melihat  layar hp yang tertera nama ‘Beibh’, lalu segera menghempaskan diri di atas kasur dan membaca pesan yang berisi kalau kekasihnya baru saja pulang dari tempat kerja sambilannya. Setelah membalas pesan itu, akhirnya ia tertidur dengan hp dalam genggamannya karena malam telah larut.
******

Pagi-pagi sekali Viona sudah berada di sekolah, namun di dalam kelas ia hanya melamun saja. Tak lama kemudian, sahabatnya,  Lily, menghampirinya.
“Woey!? Pagi-pagi udah nglamun sendirian? Ntar kalo kesambet gimana?” canda Lily sambil terkekeh, sementara yang disapa tidak merespon sama sekali.
“Da pa sich? Kok muka loe pucet,loe sakit?” kata Lily bingung
“Enggak, gue ga papa. Cuma kurang tidur aja semalem?” jawab Viona lemas, seraya menggelosorkan diri di atas meja.
‘Pasti gara-gara si Vincent lagi nich?’ piker Lily iba sambil mengelus kepala sahabatnya yang terkulai lesu. Tak lama kemudian, bel tanda masuk pun berbunyi, semua siswa masuk ke kelas dan mulai mengikuti pelajaran. Akan tetapi Viona tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran dengan baik.
*****
Saat pulang sekolah, Lily bersikeras untuk mengantar Viona pulang bersama dengan mobilnya, karena cemas dengan keadaan sahabatnya yang benar-benar tidak niat hidupitu, walaupun sudah ditolak dengan halus tadinya. Ditengah jalan, tiba-tiba Viona memegangi dadanya sambil terengah-engah., Lily yang berada di sebelahnya terkejut dan menjadi panik.
“Vi, loe kenapa? Vi, Vi?” Lily bingung, “Mang, agak cepet dikit donk?” katanya panik pada Mang Ujang.
“I.. Iya, non?” sahut Mang Ujang ikutan panik.
“Sa.. Sakit Lil.. Hah.. Hah..” Viona mengerang kesakitan.
“Iya, Vi, bentar lagi nyampe kok? Sabar ya?” kata Lily mencoba menenangkan
Ketika sampai di depan rumah, Mang Ujang langsung membopong Viona, sementara Lily mengetuk dan membukakan pintu-yang tidak dikunci-dan langsung menyuruh Mang Ujang menidurkan Viona di sofa panjang. Karina, mama Viona, yang terkejut saat mendengar pintu dibuka dan suara rebut-ribut, langsung berlari menuju ruang tamu. Ia semakin kaget saat melihat anaknya meringkuk di atas sofa.
“Mang Parmin, tolong ambilin tabung oksigen? Cepet!?” teriak Karina, “Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi Lily?” tanya Karina
“Saya.. Saya ga tau Tante?” jawab Lily gelagapan, “Dari tadi pagi Viona kelihatan lemes, trus waktu di jalan pulang tadi, tau-tau dia begini.” lanjutnya.
“Ma, sakiiitt..” rintih Viona
“Iya, sayang.. bentar dulu ya?” kata Karin menenangkan, “Mang, Bi??” panggilnya
“Loe tenang dulu ya, Vi??” kata Lily
“Iya, nyah?” sahut mereka bersamaan
Mang Parmin datang membawa tabung oksigen dan diikuti oleh Bi Ijahyang membawa plastik penuh obat. Setelah minum obat, Viona mulai tenang dan tak lama kemudian ia tertidur. Selang beberapa menit, Lily dan Mang Ujang pun berpamitan.
*****
Malam harinya, Viona terbangun dan bingung waktu sadar ia sudah ada di dalam kamar. Tak lama kemudian, terdengar suara dering hp diatas meja kecil di sebelah ranjangnya. Viona mencoba untuk meraih hp tersebut disaat Alka, kakaknya, masuk kedalam kamarnya.
“Dhek? Adhek ngapain?” tanya Alka
“Kak, ambilin hp?” pinta Viona
“Loe masih berhubungan sama dia?” tanya Alka setelah membaca nama yang ada di layar hp.
“Kak, siniin hp-nya?” kata Viona
“Dhek, dia tuh udah nyakitin kamu? Sampe 2x malah, kamu.. kenapa kamu masih contact-contact an sama dia?” kata Alka dengan suara lirih.
“Siniin hp-nya, kak Alka?” rengek Viona sambil mencoba untuk menrebutnya dari Alka
“Enggak, kamu harus jelasin ini sama kakak?” sergah Alka
Bukanya menjawab, Viona justru terisak. Alka duduk di tepi kasur dan menggenggam tangan adiknya. “Dhek, bilang sama kakak, ada apa sebenernya? Please, dhek??” katanya lembut“Vio masih sayang dia, kak? Vio masih sayang Vincent… Vio sayang dia?” jawab Vio di sela-sela tangisnya. Sementara Alka hanya terdiam mendengar hal itu, seraya memeluk adiknya. “Vio masih sayang dia, kak…” kata Viona lirih

hello...

minasan, hajimemashite watashi wa maya desu. Kalasan dai ichi koukou no seito desu. :)